Banser Ungkap Gerakan Bawah Tanah Teroris: Ancaman Nyata Menuju Indonesia Emas 2045

Jakarta – Peringatan keras kembali datang dari Detasemen Khusus 99 Satkornas Banser (Densus 99). Kepala Densus 99 Banser, Ahmad Bintang Irianto, menegaskan bahwa meski aparat keamanan terus melakukan penindakan, gerakan bawah tanah kelompok teror masih tetap hidup.

“Di tengah hingar-bingar isu global dan nasional, kita harus sadar bahwa sel tidur dan aliran dana untuk gerakan terorisme di Indonesia masih ada,” tegasnya dalam pernyataan pada 12 Agustus 2025.

Bacaan Lainnya

Ia menekankan bahwa Banser tetap menjadi mitra strategis pemerintah untuk menjaga keamanan nasional. Bahkan, diminta atau tidak, Banser siap memberi sistem peringatan dini dan deteksi awal terhadap potensi ancaman, demi menjaga cita-cita Indonesia Emas 2045.

Tak berhenti di situ, Ahmad Bintang kembali mengingatkan bahwa kini medan pertempuran para kelompok radikal berubah drastis ke ruang digital. Fakta ini terlihat dari penangkapan remaja 18 tahun di Kabupaten Goa yang menyebarkan propaganda ISIS dan ajakan pengeboman rumah ibadah lewat media sosial, serta pria berinisial AF (32) di Purworejo yang aktif menyebarkan ideologi radikal dan terafiliasi jaringan teroris internasional.

“Yang kita hadapi hari ini bukan lagi milisi berseragam dengan senjata, tapi nalar yang terpapar, narasi menyimpang, dan propaganda digital. Itulah wajah baru ancaman terorisme,” ujarnya tegas.

Data BNPT bahkan memperkuat pernyataan itu. Sepanjang tahun 2024, lebih dari 180 ribu konten radikal, intoleran, dan terorisme sudah diblokir. Sebagian besar terkait propaganda kelompok seperti ISIS, HTI, dan JAD.

Ahmad Bintang menegaskan, strategi deradikalisasi harus lebih gencar. Bukan hanya soal penegakan hukum, tapi juga pendidikan literasi digital kritis, penguatan ideologi Pancasila di sekolah, kampus, hingga keluarga.

“Jangan pernah lengah. Meski jumlah kasus menurun, ancaman terorisme justru semakin terselubung. Mereka bisa menyusup ke institusi resmi dengan wajah damai, namun membawa agenda berbahaya,” peringatnya.

Publik pun dibuat terhenyak. Peringatan Banser ini seolah membuka mata bangsa bahwa ancaman terorisme bukan sekadar bayangan masa lalu, melainkan ancaman nyata yang kini hadir dalam bentuk perang wacana dan infiltrasi ideologi.

Pos terkait