JAKARTA – Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Wakapolda Jateng) Brigjen Pol Andi Herindra Rahmawan mendatangi Pondok Pesantren (Ponpes) Islam Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan penjelasan terkait penggeledahan pondok pesantren yang berkaitan dengan pengembangan penyidikan kasus pembakaran dan perusakan Warung Mi Babi Tepi Sawah di Sukoharjo.
Kedatangan Wakapolda Jateng tersebut disambut Pengurus Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki, Ustaz Abdurrahim Al Ba’asyir, yang merupakan putra Ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membangun komunikasi dan membahas situasi yang berkembang setelah peristiwa penggeledahan.
Abdurrahim mengatakan kunjungan Wakapolda Jateng bersama rombongan menjadi kesempatan untuk menjalin komunikasi yang baik antara kepolisian dan pihak pesantren.
“Bapak Wakapolda dan juga bersama rombongan ke pondok kita, dan ini adalah sebuah kegiatan yang insyaallah terjalin komunikasi yang baik. Tentu ini pastinya bukan hanya peristiwa ini saja, tapi kebetulan memang peristiwa berdekatan dengan ini dan mudah-mudahan ini menjadi sebuah sarana yang membawa hikmah besar bagi kita terhadap apa pun yang terjadi di sekitar kita,” kata Abdurrahim kepada wartawan, Sabtu (31/10/2026).
Ia juga menyampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut, Wakapolda Jateng telah menegaskan komitmen untuk menindak siapa pun yang terbukti melakukan kesalahan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
“Namun kadang-kadang ketika terjadi kesalahan di lapangan, ini adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak dan tadi sebagaimana kita dengar langsung Bapak Wakapolda sudah menegaskan, apa pun dan siapa pun yang mungkin melakukan kesalahan tersebut maka akan dihukum, ditindak, dengan tindakan yang sepantasnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abdurrahim berharap peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak agar kehidupan masyarakat tetap berlangsung damai di tengah perbedaan agama maupun pandangan.
Menurutnya, pemerintah dan aparat penegak hukum perlu mengambil langkah antisipatif terhadap berbagai persoalan yang berpotensi memicu ketegangan dan permusuhan di tengah masyarakat.
Ia menilai upaya menjaga kondusivitas harus dilakukan dengan mengedepankan kepedulian, komunikasi, serta penanganan persoalan secara tepat.
“Harapan kita bahwa kita inginnya masyarakat kita ini hidup dalam keadaan damai, apa pun agamanya, apa pun situasinya. Maka apa pun hal-hal yang bisa memicu kepada munculnya ketegangan di masyarakat, baik itu perbedaan pandangan maupun hal-hal yang menjadi pemantik terbakarnya permusuhan dan sebagainya, maka pemerintah harus sigap untuk melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap hal-hal seperti itu,” tuturnya.
Abdurrahim juga menyoroti persoalan pembakaran dan perusakan Warung Mi Babi Tepi Sawah. Ia berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bersama, terutama dalam menentukan langkah penanganan persoalan yang berpotensi menimbulkan gesekan sosial.
“Menyoroti warung mi babi mungkin yang ada kita melihat tampaknya mungkin belum ada penanganan yang tepat sehingga memicu hal-hal yang tidak kita inginkan di masyarakat kita. Dan mudah-mudahan ini ke depan akan menjadi sebuah pelajaran bersama untuk kita kaji bersama sebenarnya apa yang paling maslahat buat kita ketika terjadi hal-hal demikian di tengah masyarakat kita,” katanya.
Ia pun meminta pemerintah, baik unsur eksekutif maupun aparat penegak hukum, memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
Menurutnya, langkah pencegahan dan penanganan yang tepat diperlukan agar situasi tetap kondusif serta kepentingan masyarakat luas dapat terjaga.
Pertemuan antara Wakapolda Jateng dan pengurus Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki tersebut diharapkan menjadi ruang komunikasi untuk membangun pemahaman bersama sekaligus menjaga hubungan baik antara kepolisian, lingkungan pesantren, dan masyarakat.
