Dari Jakarta untuk Indonesia! Bang Jali Serukan Revolusi Pilah Sampah: Jangan Menunggu, Mulailah Bergerak!

JAKARTA – Persoalan sampah di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar imbauan. Dibutuhkan keberanian untuk bergerak, kreativitas untuk melahirkan inovasi, serta partisipasi masyarakat untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

Semangat itulah yang diperlihatkan melalui inovasi Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan) dan Gantara Berkah yang dikembangkan IPTU Imam Basori, Ketua RT 11 RW 07 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Inovasi tersebut menarik perhatian para juri Program Pilah Olah Sampah Heroes Jakarta 2026 yang datang untuk melihat langsung praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Bacaan Lainnya

Dalam kunjungan tersebut, para juri diperkenalkan dengan pilar kedua Bang Jali, yakni bidang lingkungan yang menghadirkan tiga inovasi utama:Komling (Kompos Keliling), KOMA (Komposter Mandiri), dan Smart Geprek.

Ketiganya dirancang untuk menjawab persoalan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

Melalui Komling, sampah organik rumah tangga dikumpulkan menggunakan metode jemput bola dari rumah ke rumah. Sampah tersebut kemudian diproses menggunakan KOMA, mesin komposter mandiri yang mampu mengolah sampah organik dalam waktu sekitar enam jam.

Hasil pengolahannya dimanfaatkan menjadi pupuk kompos untuk mendukung penghijauan dan ketahanan pangan warga, serta bahan pakan ikan.

Sementara itu, untuk menangani sampah anorganik, Bang Jali menghadirkan Smart Geprek, alat pengepres otomatis yang dapat memadatkan botol plastik dan kaleng agar lebih mudah dikelola dan memiliki nilai ekonomi. Sampah anorganik lainnya juga didorong untuk dimanfaatkan menjadi berbagai produk kerajinan kreatif.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana: sampah bukan semata-mata masalah, tetapi juga memiliki potensi menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan kreativitas dan gotong royong.

IPTU Imam Basori menegaskan bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak cukup hanya diukur dari perubahan yang terjadi di lingkungan sendiri. Lebih dari itu, inovasi harus mampu memberikan pengaruh, menginspirasi, dan mendorong lingkungan lain untuk melakukan hal serupa.

“Bagi kami, keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya ketika lingkungan sendiri menjadi lebih baik, tetapi ketika mampu memberikan pengaruh dan menginspirasi lingkungan lainnya untuk ikut berubah,” ungkap Imam Basori.

Semangat menyebarkan perubahan tersebut juga diwujudkan melalui partisipasi dalam gerakan Bebersih Kampung yang digagas Bangkit Berdaya. Dari gerakan tersebut, RT 11 berhasil mendapatkan dukungan senilai Rp100 juta dalam bentuk peralatan role model pemilahan sampah.

Dukungan ini menjadi modal penting untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus membuktikan bahwa gerakan masyarakat yang dilakukan secara konsisten dapat membuka peluang kolaborasi dan menghasilkan manfaat nyata.

Tidak hanya bergerak di lingkungan sendiri, Bang Jali juga aktif menjadi narasumber di berbagai wilayah Jakarta melalui kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan sekolah-sekolah.

RT 11 Gandaria Utara bahkan telah menjadi lokasi studi tiru bagi masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari Sumatera Utara, Jambi, Palembang, Makassar, Kota Kendari, hingga Jabodetabek. Kunjungan juga datang dari kalangan pejabat utama (PJU), alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), serta mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN).

Berbagai kunjungan tersebut bukan sekadar ajang memperlihatkan mesin atau teknologi pengolahan sampah. Lebih penting lagi, menjadi ruang berbagi pengalaman bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari tingkat paling kecil, yaitu rumah tangga, RT, RW, hingga kelurahan.

SAATNYA JAKARTA DAN INDONESIA BERGERAK

Melalui momentum kunjungan juri Pilah Olah Sampah Heroes Jakarta 2026, Imam Basori berharap semakin banyak masyarakat, pengurus RT/RW, komunitas, sekolah, hingga pelaku UMKM yang berani mengambil inisiatif menciptakan inovasi pengelolaan sampah.

Tidak harus langsung memiliki mesin canggih atau anggaran besar. Perubahan bisa dimulai dari kebiasaan memilah sampah di rumah, membentuk kelompok pengelola sampah, membuat komposter sederhana, mengembangkan bank sampah, hingga menciptakan produk kreatif dari barang bekas.

Yang terpenting adalah kemauan untuk memulai, bergerak bersama, dan menjaga keberlanjutan program.

“Jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi jadilah pelaku perubahan. Jangan menunggu Jakarta bersih kalau kita sendiri belum mau bergerak. Jangan menunggu Indonesia bebas dari persoalan sampah kalau dari lingkungan terkecil saja kita belum memulainya,” tegasnya.

Ia menambahkan, satu RT yang bergerak dapat menginspirasi RT lainnya. Satu RW yang berinovasi dapat menggerakkan satu kelurahan. Jika gerakan tersebut meluas ke seluruh Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, maka perubahan besar bukanlah sesuatu yang mustahil.

Karena mengubah sampah menjadi berkah bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang perubahan pola pikir, kepedulian, dan keberanian masyarakat untuk bertindak.

Dari rumah kita mulai, dari RT kita bergerak, dari Jakarta kita sebarkan, dan bersama-sama kita wujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *